Di era digital ini hampir semua orang menggunakan internet untuk memudahkan dalam melakukan pekerjaan ataupun mencari informasi. Sehingga, setiap aktifitas yang dilakukan pastinya akan menimbulkan jejak digital.

Jejak digital dapat digunakan untuk melacak aktivitas dan perangkat online seseorang. Pengguna internet membuat jejak digital mereka baik secara aktif maupun pasif. Maka dari itu setiap pengguna internet wajib memahami pengertian jejak digital, jenis-jenis, contoh, dan cara menghapus atau melindunginya.

Jejak digital di internet bisa menjadi masalah yang besar, karena jejak digital ini mengandung informasi pribadi yang bisa saja berpotensi menimbulkan hal yang tidak diinginkan di kemudian hari.

Pelaku cybecrime biasanya memanfaatkan jejak digital untuk melakukan berbagai tindak kejahatan yang merugikan seperti pembobolan akun. Akhir akhir ini kita melihat berita atau informasi terkait kebocoran data.

Karena itu kami akan membantu Anda dengan menyajikan informasi penting terkait dengan Jejak Digital, agar semakin bijak dalam menggunakan internet.

Jejak Digital adalah…

Dalam bahasa Inggris, jejak digital disebut digital footprint terkadang disebut juga bayangan digital (digital shadow) atau jejak elektronik (electronic footprint).

Jejak Digital merupakan segala rekam jejak data seseorang saat orang tersebut berselancar dan menggunakan internet. Contoh unggahan di media sosial, aktivitas berbelanja di ecommerce atau ulasan di sebuah forum. Setiap pengguna internet secara sadar ataupun tidak sadar meninggalkan jejak digital atau “track record online”.

Jejak digital sangat mudah diakses oleh banyak orang dalam waktu yang singkat dan jejak digital hal yang paling sulit untuk dihapus. Sesuatu yang diunggah seseorang bisa saja sudah dihapus, tetapi jejak digital tersebut tidak bisa hilang begitu saja. Apalagi jika orang lain masih memiliki unggahan tersebut dalam bentuk screenshot ataupun tautan.

Terkadang, tanpa disadari, kita berkontribusi pada jejak digital kita. Misalnya, situs web dapat melacak aktivitas kita dengan memasang cookie di perangkat komputer dan aplikasi dapat menyusun data kita tanpa kita sadari. Jika Anda mengizinkan organisasi mengakses informasi Anda, mereka dapat menjual atau membagikan data Anda dengan pihak ketiga. Lebih buruk lagi, informasi pribadi Anda dapat disusupi sebagai bagian dari pelanggaran data.

Jenis – jenis Jejak Digital

  • Jejak Digital Aktif

Jejak digital aktif adalah ketika pengguna secara sadar membagikan sebuah informasi. Contoh jejak digital aktif di antaranya:

  1. Mengirim email
  2. Mengunggah konten di Instagram, Twitter, atau media sosial lainnya
  3. Berlangganan newsletter
  4. Mengisi survey online
  5. Direct message
  6. Komentar di media social
  7. Setuju menerima cookie di browser
  • Jejak Digital Pasif

Jejak digital pasif yaitu informasi yang ditinggalkan di internet oleh pengguna tanpa sadar atau data yang dikumpulkan secara otomatis oleh pihak lain tanpa sepengetahuan pemilik jejak digital.

Adapun contoh dari jejak digital pasif yaitu:

  1. Riwayat browser
  2. Alamat IP
  3. Aplikasi yang mengakses lokasi GPS Anda
  4. Media sosial yang menggunakan like, comment dan share untuk memunculkan iklan tertarget di media sosial Anda
  5. Website yang menggunakan cookies untuk melacak aktivitas online Anda tanpa izin

Contoh Jejak Digital

Pengguna internet dapat memiliki ratusan item yang merupakan bagian dari jejak digital mereka.Bahkan hampir semua aktivitas online dapat berkontribusi pada jejak digital Anda. Dibawah ini contoh jejak digital :

  1. Belanja online

  • Melakukan pembelian dari situs web e-niaga
  • Mendaftar untuk kupon atau membuat akun
  • Mengunduh dan menggunakan aplikasi belanja
  • Mendaftar untuk buletin merek
  1. Perbankan online

  • Menggunakan aplikasi mobile banking
  • Membeli atau menjual saham
  • Berlangganan publikasi keuangan dan blog
  • Membuka rekening kartu kredit
  1. Media sosial

  • Menggunakan media sosial di komputer atau perangkat Anda
  • Masuk ke situs web lain menggunakan kredensial media sosial Anda
  • Terhubung dengan teman dan kontak
  • Berbagi informasi, data, dan foto dengan koneksi Anda
  • Bergabung dengan situs atau aplikasi kencan
  1. Membaca Berita Online

  • Berlangganan ke sumber berita online
  • Melihat artikel di aplikasi berita
  • Mendaftar untuk buletin publikasi
  • Memposting ulang artikel dan informasi yang Anda baca

 

Dampak Positif Jejak Digital

  • Personalized Marketing

Jejak digital dapat digunakan untuk menerapkan strategi personalized marketing, yaitu upaya untuk memberikan konten pemasaran yang sesuai dengan target konsumen.  Dengan adanga cookies, digital marketer bisa mendapatkan informasi personal pengguna internet yang meninggalkan jejak digital mereka seperti umur, jenis kelamin, kesukaan, dan lainnya.

Misalnya, ketika Anda browsing merk tas di mesin pencari, kemungkinan Anda akan menemui iklan yang serupa dengan apa yang Anda cari.

  • Background Checking

Saat ini, sudah banyak recruiter yang menggunakan media sosial untuk melakukan screening kandidat. Background check ini dilakukan dengan melihat jejak digital alias aktivitas online dan perilaku bermedia sosial di platform seperti LinkedIn, Twitter, dan lainnya.

Recruiter melakukan background checking untuk mengetahui pribadi asli seorang kandidat. Apabila tidak cocok dengan budaya perusahaan, bukan tidak mungkin kandidat tersebut tidak lolos seleksi.

  • Bukti Digital Cyber Crime

Jejak digital dapat digunakan pada tahap pembuktian kasus cyber crime. Untuk mengumpulkan dan menganalisis jejak digital di komputer pelaku, diperlukan metode digital forensik.

Biasanya, metode ini dilakukan dengan bantuan berbagai aplikasi analisis seperti Encase, Access Data FTK, Belkasoft, Autopsy, dan masih banyak lagi.

Selain memiliki kegunaan seperti yang tertera diatas, jejak digital juga memiliki banyak dampak negatif yang bisa membahayakan pengguna digital.

Dampak Negatif Jejak Digital

  • Rentan Pencurian Data

Dengan jejak digital, pelaku dapat dengan mudah mendapatkan akses ke data penting Anda. Misalnya, alamat rumah, NIK, data kartu kredit, dan lainnya, di mana data tersebut dapat disalahgunakan untuk kepentingan pribadi pelaku.

  • Penipuan Online / Scam

Sebagai contoh, kasus yang menyebabkan korbannya kehilangan uang karena scammer berhasil meyakinkan korban dengan menggunakan nama panggilan masa kecil seolah penipu adalah kerabat dekat.

  • Mempengaruhi Reputasi Seseorang

Jejak digital dapat digunakan untuk mengidentifikasi tanda-tanda yang mungkin menunjukkan bahwa kandidat pelamar kerja tidak cocok dengan pekerjaan yang dilamar. Menurut perusahaan cyber security Kaspersky, 1/3 pencari kerja menyatakan bahwa unggahan di media sosial telah merusak prospek pekerjaan mereka.

Contohnya, pada kasus seorang pelamar kerja yang ditolak recruiter karena jejak digitalnya yang buruk. Meski punya IPK yang tinggi, pelamar tersebut tidak diterima kerja karena berkomentar di media sosial dengan perkataan yang tidak sopan.

Baca juga: Peluang Usaha di Dunia Digital

Cara Menghapus Jejak Digital

Dibawah ini beberapa cara menghapus jejak digital yang bisa Anda lakukan:

1. Ajukan Permohonan Penghapusan Konten di Google

Google menerapkan “right to be forgotten” atau hak untuk dilupakan. Jadi, Google akan mempertimbangkan permintaan untuk menghapus konten. Misalnya, foto eksplisit non-konsensual, data keuangan, sampai rekam medis.

Untuk menerapkan cara menghapus jejak digital ini, Anda harus mengirimkan formulir dan memberikan bukti kontennya.

Berikut langkah-langkahnya:

  • Buka legal help di halaman Google Support
  • Klik “create a request”
  • Pilih produk Google di mana konten yang ingin Anda hapus diunggah. Misalnya, Google Search, Google Image, hingga YouTube
  • Tuliskan alasan mengapa Anda ingin menghapus konten tersebut dengan jelas dan lengkap
  • Lampirkan link untuk setiap konten yang ingin dihapus
  • Submit formulir permohonan penghapusan konten

2. Tutup Akun Lama yang Sudah Tidak Dipakai

Sebelumnya mungkin Anda pernah membuat akun yang mencantumkan nama lengkap, umur, hingga lokasi tempat tinggal tanpa menyadari bahayanya jejak digital yang Anda tinggalkan.

Hal ini bisa menjadi peluang bagi pelaku cyber crime untuk menyalahgunakan data Anda demi keuntungan pribadinya.

Untuk menghindari tindak cyber crime, lebih baik akun – akun tersebut ditutup.

3. Hapus Unggahan Lama

Sebagian besar orang menyesal sudah mengunggah berbagai macam konten ke media sosial setelah menyadari dampak negatife yang ditimbulkan dari jejak digital yang mereka tinggalkan . Karena tidak sedikit dari mereka yang mengunggah konten atau informasi sensitife di media social.

Untuk menghapus jejak digital ini, Anda bisa menggunakan beberapa cara. Misalnya untuk Twitter, Anda bisa menggunakan TweetDeleter.

Atau, untuk unggahan di Facebook, Anda bisa menghapus unggahan Anda dengan cara:

  • Buka Pengaturan & Privasi
  • Klik Log Aktivitas
  • Pilih jenis aktivitas yang ingin Anda hapus seperti unggahan tulisan atau tag foto
  • Klik kelola lalu hapus aktivitas yang Anda pilih.

3. Hapus Cookies

Cookies merupakan informasi yang berisi rekam jejak dan aktivitas saat mengunjungi sebuah website. Fitur ini menyimpan pengaturan atau preferensi pengguna untuk suatu website, seperti pilihan bahasa, lokasi, data user, hingga preferensi pencarian di website tersebut.

Walaupun ada banyak kemudahan dengan menggunakan cookies, tapi bisa saja fitur ini digunakan untuk mengakses data pribadi Anda oleh hacker.

Itu mengapa Anda perlu sering menghapus cookies di browser. Cara menghapus cookies bagi Anda yang menggunakan Google Chrome adalah sebagai berikut:

  • Buka Pengaturan Browser
  • Pilih Privasi & Keamanan
  • Klik hapus browsing data
  • Centang pilihan Cookies dan data situs lainnya
  • Klik hapus data

Tips Mengelola Jejak Digital

Sebagai langkah pencegahan, Anda perlu mengetahui tips mengelola rekam jejak digital berikut ini:

1. Menggunakan Fitur Incognito

Dengan fitur ini, browser tidak bisa merekam halaman yang Anda kunjungi dan keyword yang Anda gunakan di mesin pencarian. Jadi, rekam jejak digital Anda akan otomatis tersembunyi.

2. Menggunakan VPN

VPN adalah layanan koneksi yang bisa menjadi pelindung saat Anda berselancar di internet.

VPN akan menyembunyikan pertukaran data yang terjadi saat Anda mengakses website. Jadi, aktivitas online yang bisa menjadi jejak digital Anda sudah pasti tidak akan terdeteksi.

3. Tidak Asal Membagikan Data Pribadi

Salah satu bahaya jejak digital adalah pencurian data pribadi. Informasi tersebut bisa saja disalahgunakan untuk penipuan yang mengatasnamakan Anda. Selain itu informasi pribadi Anda bisa dipakai untuk mendaftar pinjaman online oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

Oleh sebab itu, sebaiknya Anda lebih berhati-hati saat akan membagikan data pribadi. Perlu diingat, berikan data pribadi hanya ke platform yang terpercaya.

4. Memikirkan Ulang Sebelum Mengunggah Konten 

Banyak dari pengguna media social yang tidak memperhatikan konten apa saja yang mereka unggah. Apakah itu sesuatu yang berdampak baik atau malah menimbulkan dampak buruk, baik untuk pengunggah konten atau pengguna media social yang lain.

Selain itu pilihlah kata-kata yang baik saat membuat caption untuk menjaga citra baik Anda di media social.

Demikian informasi yang kami bagikan tentang Jejak Digital, semoga semakin bijak dan lebih berhati-hati dalam berinteraksi di internet. Yang perlu diingat adalah manfaatkan dunia digital ini untuk hal-hal yang positif dan bagikan sesuatu yang memang layak untuk dibagikan kepada publik.

Nah, jika Anda atau perusahaan Anda ingin menguasai digital marketing, silahkan ikuti pelatihan digital marketing di akmakom.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here